Bayangkan seorang kreator konten kuliner di pesisir Karangasem yang ingin membuat video tentang perjalanan ikan tongkol dari kapal nelayan sampai ke warung makan di kota. Ia ingin menunjukkan siapa yang menangkap, kapan, dan lewat tangan berapa orang ikan itu berpindah sebelum digoreng. Pertanyaan sederhana ini ternyata sulit dijawab kalau catatannya cuma ada di buku tulis nelayan atau chat WhatsApp pengepul yang gampang hilang.
Persoalan yang sama juga dialami petani, pengepul hasil laut, sampai koperasi desa. Semua ingin rantai pasoknya bisa dilacak, tapi caranya beda-beda. Mari kita bandingkan tiga pendekatan yang biasa dipakai.
Pencatatan Manual: Murah tapi Rapuh
Cara paling umum di daerah masih pakai buku catatan atau spreadsheet sederhana. Nelayan mencatat hasil tangkapan, pengepul mencatat pembelian, lalu semua data direkap ulang secara manual. Biayanya nyaris nol, tapi risikonya besar: buku bisa basah kena air laut, data bisa salah tulis, dan ketika ada sengketa soal asal barang, tidak ada bukti yang bisa dipercaya semua pihak.
Aplikasi Terpusat: Rapi tapi Bergantung pada Satu Pihak
Pendekatan kedua adalah aplikasi pencatatan berbasis server milik satu perusahaan. Datanya lebih rapi, bisa diakses dari ponsel, dan laporan otomatis tersedia kapan saja. Kekurangannya, seluruh data ada di satu tangan. Kalau server bermasalah atau perusahaan penyedia berhenti beroperasi, jejak rantai pasok yang sudah dibangun bertahun-tahun bisa ikut hilang. Petani dan nelayan juga tidak punya kendali penuh atas data mereka sendiri.
Infrastruktur Blockchain: Transparan tapi Butuh Adaptasi
Pendekatan ketiga memakai infrastruktur blockchain, seperti yang dibangun PT Engine Solusi Pintar Nusantara (ESPN) lewat Engine Blockchain. Berbeda dari aplikasi biasa, setiap catatan transaksi tersimpan di jaringan node yang saling memverifikasi lewat mekanisme konsensus pBFT, sehingga tidak bergantung pada satu server saja. Salah satu solusi mereka, Data & Asset Traceability, dirancang khusus untuk melacak jejak barang dan aset dari hulu ke hilir, sementara Garuda Tani menunjukkan bagaimana pendekatan ini sudah diterapkan pada ekosistem pertanian digital yang memadukan AI, IoT, dan blockchain. Anda bisa membaca lebih detail cara kerja infrastrukturnya lewat situs resmi Engine Blockchain.
Tapi jujur saja, pendekatan ini juga punya keterbatasan. Jaringan EBC85 yang dipakai masih bersifat privat dengan partisipasi node terverifikasi, bukan jaringan publik terbuka sepenuhnya. Kontrak pintarnya memakai templat JavaScript yang cukup fleksibel untuk pembuatan token dan penyimpanan file JSON, tapi tetap butuh proses adaptasi dari sisi pengguna, terutama nelayan dan petani yang belum terbiasa dengan teknologi digital. Butuh pendampingan di awal supaya pencatatan di lapangan benar-benar masuk ke sistem, bukan cuma jadi wacana.
Membandingkan Ketiganya
| Kriteria | Manual | Aplikasi Terpusat | Infrastruktur Blockchain |
|---|---|---|---|
| Biaya awal | Sangat rendah | Sedang | Sedang-tinggi |
| Transparansi jejak | Rendah | Sedang | Tinggi |
| Ketergantungan pada satu pihak | Rendah | Tinggi | Rendah |
| Kemudahan bagi pengguna lapangan | Tinggi | Tinggi | Perlu pendampingan |
| Ketahanan data jangka panjang | Rentan rusak | Bergantung server | Tersebar di banyak node |
Untuk kreator konten yang ingin bercerita jujur tentang asal-usul pangan dan hasil laut, data yang bisa diverifikasi jelas jadi modal cerita yang lebih kuat daripada sekadar klaim di kemasan. Tidak ada pendekatan yang sempurna. Pencatatan manual cocok untuk skala sangat kecil, aplikasi terpusat memudahkan operasional harian, sementara infrastruktur blockchain seperti yang dikembangkan Engine Blockchain menawarkan jejak yang lebih sulit dimanipulasi, dengan konsekuensi perlu waktu belajar di tahap awal. ESPN sendiri, yang berkantor di Kerobokan, Bali, membuka kontak lewat admin@engineblockchain.io atau nomor 0811-3972-288 bagi yang ingin memahami lebih jauh sebelum memutuskan pendekatan mana yang paling pas untuk usaha atau kontennya.